fbpx
Beranda » Artikel » Harmoni di Kampung Kaleng

Harmoni di Kampung Kaleng

Diposting pada 29 January 2018 oleh admin | Dilihat: 611 kali | Kategori:

Memasuki Kampung Dukuh kita seperti memasuki dunia kaleng. Sejauh mata memandang, pelat-pelat kaleng, baik yang baru maupun bekas, terlihat menumpuk hingga ke gang-gang sempit, memantulkan bayangan pepohonan, rumah-rumah, kendaraan, dan warga yang berlalu lalang.

Di muka hampir semua rumah, ada saja sekelompok orang yang sedang bekerja membuat aneka produk berbahan kaleng, mulai panci, kompor, kaleng kerupuk, oven, penggorengan, cetakan kue, bak sampah, hingga aksesori mobil dan knalpot sepeda motor. Suara tak tek tok yang keluar dari benturan palu dengan kaleng terdengar di mana-mana dan akan reda saat azan berkumandang atau waktu istirahat tiba. Karena itulah, kampung itu dijuluki ”Kampung Kaleng”.

Sekitar lima tahun yang lalu, suara tak tek tok kerap diselingi suara warga yang bertengkar berebut pembeli. Saat itu, persaingan di antara perajin begitu hebatnya. Mereka bisa saling menjatuhkan dan banting harga. Jika si A menjajakan produknya seharga Rp 500.000, si B akan mematok harga lebih murah agar pelanggan berpaling padanya.

”Situasi kampung jadi tegang. Rebutan pembeli memicu pertengkaran bahkan perkelahian,” kenang Dedi Ahmadi, pemuda berusia 38 tahun yang juga perajin kaleng, pertengahan April lalu, di Kampung Dukuh. Ia mengaku pernah terlibat pertengkaran seperti itu. ”Lima tahun yang lalu saya bekerja di tempat kakak saya sebagai pembuat cetakan kue. Suatu ketika tetangga sebelah menuduh kakak saya merebut pelanggannya, lalu mereka jotos-jotosan. Ya, saya membela kakak dan ikutan gelut,” tuturnya.

Setelah gelut, Dedi sadar bahwa berebut pelanggan hanya menguntungkan pengepul yang datang ke Kampung Kaleng. ”Mereka bisa menekan harga produk serendah-rendahnya kepada perajin. Kami yang cakar-cakaran.”

Gerakan koperasi

Dedi bertekad mengakhiri praktik rebutan pelanggan yang memicu ketegangan. Dia pun menghubungi dua teman sekaligus kerabat dekatnya, Nurwan dan Anwarudin. Mereka mendiskusikan persoalan itu untuk mencari solusi. Dari diskusi tersebut tercetus ide membuat kelompok usaha bersama.

Ide itu segera dieksekusi dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Rancage. Rancage diambil dari bahasa Sunda yang berarti cakap atau mahir melakukan sesuatu. Mereka selanjutnya berusaha merangkul para tetangga untuk bergabung dengan Rancage. ”Kami ketuk pintu rumah tetangga satu per satu dan mengajak mereka untuk bergabung. Ternyata susah sekali, tidak semua warga mau menerima ide itu,” ujar Dedi.

Dari hasil keliling ke rumah-rumah, Dedi dan kawan-kawan hanya mampu merekrut 15 orang dari sekitar 135 perajin di Kampung Kaleng. Namun, mereka tidak mundur. ”Kami teruskan rencana kami. Awalnya memang tidak mulus karena kami tidak punya modal,” katanya.

Suatu ketika sekitar empat tahun yang lalu, para anggota Rancage mendapat bantuan dana bergulir dari CSR PT Indocement masing-masing Rp 20 juta. Mereka juga mendapat berbagai pelatihan dan akses untuk mengikuti pameran di Jakarta.

Dari situ, roda usaha anggota Rancage bergerak lebih cepat. Suara tak tek tok semakin sering terdengar dari bengkel para perajin, pertanda pesanan kerajinan aneka produk kaleng berdatangan. ”Semula pasar kami hanya seputar Citeureup, paling jauh daerah Jakarta seperti Cawang, Pasar Senen, dan Tanah Abang. Sekarang permintaan datang dari Batam, Kalimantan, hingga Malaysia.”

Omzet perajin berlipat ganda dari sebelumnya Rp 200.000-Rp 500.000 per hari menjadi lebih dari Rp 1 juta. ”Para perajin bisa hidup. Mereka juga tidak perlu berkelahi untuk mendapatkan pelanggan yang kini berlimpah. Dulu mereka tidak punya rumah, sekarang sudah punya. Dulu belum punya sepeda motor, sekarang sudah bisa.”

Melihat kemajuan tersebut, perajin lain akhirnya mau bergabung dengan Rancage. Agar usaha kian berkembang, Dedi dan kawan-kawan mengubah kelompok usaha bersama menjadi Koperasi Usaha Bersama (KUB) Rancage pada 2015. Anggota koperasi itu kini berjumlah 72 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Desa Pasirmukti, tetapi juga dari 12 desa lainnya, antara lain Tari Kolot, Gunung Sari, dan Lulut.

Mereka terbagi dalam beberapa kluster usaha, yakni kluster usaha berbasis kaleng, makanan dan minuman, boneka, garmen, alat kebersihan, dan alat kesehatan. ”Kami berusaha mengintegrasikan semuanya. Kalau dulu kami hanya jualan stoples, misalnya, sekarang jualan stoples beserta isinya, yakni keripik buatan ibu-ibu,” lanjut Dedi.

Ke depan, Dedi dan kawan-kawan berencana mendorong sentra kerajinan kaleng di Citeureup menjadi daerah wisata Kampung Kaleng. ”Saya mengincar ibu-ibu. Mereka bisa datang ke sini melihat Kampung Kaleng dan pulangnya beli panci, stoples, atau penggorengan.”

Pertaruhan

Dedi lahir di Kampung Dukuh, Desa Pasirmukti yang sejak dulu menjadi sentra kerajinan kaleng terbesar di wilayah Kabupaten Bogor. ”Saya tidak tahu pasti kapan orang-orang di kampung ini memulai usaha berbasis kaleng. Yang jelas ini usaha turun-menurun.”

Anak-anak muda di Kampung Kaleng, lanjut Dedi, rata-rata hanya sekolah hingga SD. Ketika memasuki usia 17 tahun, mereka biasanya sudah menikah. Untuk menghidupi keluarga, mereka terjun sebagai perajin kaleng. ”Menjadi perajin itu sudah seperti nasib. Kakeknya bikin kompor, bapaknya bikin kompor, cucunya juga bikin kompor. Enggak ada pilihan, kecuali buat yang punya ijazah SMA. Mereka bisa kerja di pabrik.”

Kini, lanjut Dedi, anak muda terjun ke bisnis kerajinan kaleng bukan karena ”suratan takdir”, melainkan karena bisnis ini menjanjikan kesejahteraan. Anak-anak muda yang memiliki ijazah SMA pun tidak terlalu bernafsu lagi bertarung habis-habisan dengan pendatang sekadar untuk bekerja sebagai buruh pabrik yang banyak bertebaran di Citeureup, Cibinong, dan sekitarnya.

Suatu siang, pertengahan April lalu, beberapa anak muda Kampung Kaleng yang rata-rata berkulit putih-bersih dengan tekun mengecat pot-pot hias mini cantik di sebuah bengkel. Ada pula yang memotong lembaran pelat logam dan menempanya menjadi stoples mini.

Suara tak tek tok bersahutan dari masing-masing bengkel dengan riuhnya. Mereka tahu selama suara tak tek tok terdengar dari rumah-rumah berarti duit terus mengalir ke Kampung Kaleng.

Sumber: www.kompas.com
Bagikan

Harmoni di Kampung Kaleng | Kampung Kaleng

Komentar (0)

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Anda Mungkin Suka

Our Office:

Jl RE. Sulaeman. Kamurang RT 02/07 No. 5 Puspasari Citeureup Bogor 16810

Pelayanan Konsumen:

  • Senin – Jum’at
  • Pukul 08.00 – 16.00 WIB
  • Hari Sabtu
  • Pukul 08.00 – 12.00 WIB

Customer Service:

Telepon dan Whatsapp:

Telkom: 021-87945717

Telkomsel: 0813 – 9266 – 0009

Indosat: 0815 – 902 – 9109

XL Axiata: 0878 – 8488 – 8909

Website:

Website: www.kampungkaleng.com

Email: admin@kampungkaleng.com

Instagram: @kampungkaleng

Facebook: Kampung Kaleng

Chat via Whatsapp
Nila
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Nila
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja