fbpx
Beranda » Artikel » Perjalanan Coklat Sampai Ke Indonesia!

Perjalanan Coklat Sampai Ke Indonesia!

Diposting pada 1 February 2023 oleh admin | Dilihat: 296 kali | Kategori:

Cokelat atau Coklat (bahasa Inggris: Chocolate) adalah sebutan untuk hasil olahan makanan atau minuman dari biji kakao (Theobroma cacao). Cokelat pertama kali dikonsumsi oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman, walaupun dipercaya bahwa dahulu cokelat hanya bisa dikonsumsi oleh para bangsawan.

Cokelat umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan pada hari ulang tahun dan hari raya. Dengan bentuk, corak, dan rasa yang unik, cokelat sering digunakan sebagai ungkapan terima kasih, simpati, atau perhatian bahkan sebagai pernyataan cinta. Cokelat juga telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia. Selain dikonsumsi paling umum dalam bentuk cokelat batangan, cokelat juga menjadi bahan minuman hangat dan dingin.

Hari Cokelat Sedunia atau World Chocolate Day diperingati setiap tanggal 7 Juli. Pada tanggal tersebut dipercaya oleh para sejarawan merupakan peringatan diperkenalkannya cokelat pertama kali di Eropa sekitar tahun 1550-an. Hari Coklat Sedunia sendiri pertama kali dirayakan di tahun 2009. Masyarakat dunia biasanya ikut merayakan peringatan ini dengan memberikan hadiah, menikmati dan membuat cokelat di Hari Cokelat Sedunia. Lalu, bagaimana sejarah penciptaan cokelat tersebut?

Sejarah Coklat - Kampung Kaleng

Sejarah Coklat – Kampung Kaleng

Sejarah Coklat

Sejarah cokelat Dilansir dari Britannica, cokelat merupakan produk makanan yang terbuat dari biji kakao. Pohon kakao dibudidayakan lebih dari 3.000 tahun yang lalu oleh suku Maya, Toltec dan Aztec di Benua Amerika. Kala itu biji dari pohon kakao dikonsumsi sebagai minuman khusus suatu upacara ataupun digunakan sebagai mata uang. Bahkan suku Maya mempercayai bahwa cokelat adalah makanan para dewa dengan mengganggap pohon kakao sebagai sesuatu yang suci. Selain itu suku Maya juga menguburkan para petingginya yang meninggal dengan semangkuk zat dari biji kakao karena dianggap akan berguna nantinya di akhirat.

Cokelat dikenal di Eropa Spanyol adalah negara Eropa pertama yang mencampurkan cokelat ke dalam olahan masakan. Berawal dari pelaut Italia bernama Christopher Columbus yang membawa biji kakao ke Spanyol pada pelayaran keempatnya tahun 1502. Sumber lain mengatakan bahwa pada 1519, penguasa Aztec di Meksiko bernama Montezuma II menyajikan minuman biji kakao pahit kepada Conquistador Spanyol Hernán Cortés. Cortés kemudian memperkenalkan minuman tersebut ke Spanyol pada 1544 dengan mambawa perwakilan dari suku Maya Kekchi dari Guatemala. Namun, baru pada 1585 pengiriman biji kakao tercatat pertama kali tiba di Spanyol dari Veracruz, Meksiko.

Makanan Mewah

Dikutip dari History, pada waktu itu orang Spanyol mempermanis minuman cokelat yang pahit dengan gula tebu dan kayu manis. Minuman cokelat pada awalnya dikonsumsi oleh kalangan elit dan kalangan kerajaan Spanyol, di mana cokelat digunakan sebagai simbol kemewahan. Popularitas cokelat kemudian menyebar hingga ke pengadilan-pengadilan negara Eropa, di mana bangsawan mengonsumsinya sebagai ramuan ajaib dengan berbagai manfaat kesehatan. Kebutuhan akan cokelat kemudian semakin besar, hingga membuat negara-negara Eropa mendirikan perkebunan di daerah kolonialnya di seluruh dunia untuk menanam kakao dan gula.

Cokelat menjadi makanan Cokelat menjadi olahan bagi kaum bangsawan sampai pada 1828 terjadi revolusi produksi cokelat. Pada tahun itu kimiawan Belanda Coenraad Johannes van Houten mengenalkan mesin pemeras kakao untuk memeras lemak mentega dari biji kakao panggang. Mesin ini menghasilkan bubuk kakao yang dapat dicairkan atau dituangkan dalam cetakan dan menjadi cokelat padat yang dapat dimakan. Penemuan mesin pemeras kakao membuat cokelat memasuki era modern, bisa diproduksi dengan biaya ringan sehingga bisa dijual dalam harga lebih terjangkau.

Pada 1874, perusahaan cokelat asal Inggris JS Fry & Sons menciptakan cokelat batangan pertama yang dapat dimakan. Cokelat batangan tersebut memiliki komposisi mentega kakao, bubuk kakao dan gula. Menjadi bisnis yang besar, Cokelat kemudian berinovasi secara olahan dan sistem produksinya seiring perkembangan zaman. Setelah menghadapi perjalanan sejarah yang panjang, saat ini cokelat dikenal sebagai komoditas bisnis yang besar. Menurut penelitian Statista, penjualan eceran cokelat di seluruh duni pada 2016 mencapai hampir 100 miliar dolar AS atau setara 1.499 triliun rupiah. Meskipun tanaman kakao merupakan tanaman asli Amerika, namun saat ini perkebunan terbesarnya berada di Afrika.

Sejarah Coklat - Kampung Kaleng

Sejarah Coklat – Kampung Kaleng

Rasa cokelat

Rasa cokelat masih sulit didefinisikan. Dalam bukunya Kaisar Cokelat (Emperors of Chocolate), Joel Glenn Brenner menggambarkan riset terkini tentang rasanya. Menurutnya rasa cokelat tercipta dari campuran 1.200 macam zat, tanpa satu rasa yang jelas-jelas dominan. Sebagian dari zat itu rasanya sangat tidak enak kalau berdiri sendiri. Karenanya, sampai kini belum ada rasa cokelat tiruan.

Efek psikologis yang terjadi saat menikmati cokelat dikarenakan titik leleh lemak kokoa ini terletak sedikit di bawah suhu normal tubuh manusia. Sebagai ilustrasi, bila anda memakan sepotong cokelat, lemak dari cokelat tersebut akan lumer di dalam mulut. Lumernya lemak kokoa menimbulkan rasa lembut yang khas dimulut, riset terakhir dari BBC mengindikasikan bahwa lelehnya cokelat di dalam mulut meningkatkan aktivitas otak dan debaran jantung yang lebih kuat daripada aktivitas yang dihasilkan dari ciuman mulut ke mulut, dan juga akan terasa empat kali lebih lama bahkan setelah aktivitas ini berhenti.

Pemalsuan rasa

Pemalsuan rasa cokelat sering terjadi karena kokoa adalah bahan yang relatif mahal dibandingkan dengan gula atau minyak nabati. Kedua bahan ini sering digunakan untuk menggantikan kokoa.

Lemak kokoa sering digantikan minyak yang lebih murah, seperti lesitin dari kedelai atau minyak palem. Selain soal harga, dengan kedua bahan ini pelapisan cokelat menjadi lebih mudah. Perbandingan kokoa padat (komponen nonlemak pada biji yang digiling) juga cenderung rendah. Dalam cokelat batangan, misalnya, sekitar 20% gula-gula itu diisi cokelat.

Cokelat premium, di sisi lain, biasanya mengandung sekitar 50 – 70% cokelat padat. Karena mengandung lebih sedikit gula dan mungkin juga sedikit minyak nabati, cokelat pekat ini mengandung lebih sedikit kalori dari produk cokelat pada umumnya. Pantaslah bila para pencinta cokelat sering “protes” gara-gara cokelat disalahkan untuk masalah yang sebenarnya disebabkan oleh konsumsi gula berlebihan.

Kandungan cokelat

Cokelat mengandung alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida, yang memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan, cokelat yang dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah.[8] Cokelat hitam akhir-akhir ini banyak mendapatkan promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah sedang, termasuk kandungan anti oksidannya yang dapat mengurangi pembentukan radikal bebas dalam tubuh.

Racun bagi hewan tertentu

Adanya kandungan teobromin dalam cokelat bisa menjadi racun untuk sebagian hewan bila dikonsumsi. Hewan-hewan yang bereaksi keracunan pada kandungan teobromin di antaranya adalah kuda, anjing, burung Kakaktua, dan kucing (khususnya anak kucing), ini dikarenakan metabolisme tubuh mereka tidak dapat mencerna kandungan kimia ini secara efektif. Bila mereka diberi makan cokelat maka kandungan teobromin akan tetap berada dalam aliran darah mereka hingga 20 jam, akibatnya hewan-hewan ini mungkin mengalami epilepsi dan kejang-kejang, serangan jantung, pendarahan internal, dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. Penanggulangannya adalah dengan merangsang hewan-hewan ini agar memuntahkan cokelat dan secepat mungkin membawa mereka ke dokter hewan.

Sejarah Coklat - Kampung Kaleng

Sejarah Coklat – Kampung Kaleng

Coklat Masuk Ke Indonesia

Cokelat, kata ini membuat orang membayangkan rasa manis yang legit dengan rasa khas. Sebelum cokelat dipasarkan, biji kakao difermentasi untuk menghilangkan rasa pahitnya, sehingga didapat rasa yang nikmat. Tak hanya lezat, cokelat juga dapat membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik dan beragam khasiat bagi tubuh.

Orang-orang Indonesia kerap memesan cokelat kepada mereka yang bepergian ke luar negeri. Padahal, Indonesia adalah salah satu produsen cokelat. Cokelat memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Tanaman kakao (Theobroma cacao) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan. Cokelat merupakan salah satu makanan tertua di dunia yang diproses sejak 1.100 Sebelum Masehi.

Dikutip dari history.com, pada awal abad ke17, cokelat menjadi minuman penyegar yang digemari di Istana Spanyol. Sepanjang abad itu, cokelat menyebar di antara kaum elit Eropa. Awalnya orang Eropa mengkonsumsi cokelat sebagai minuman. Pada 1847 barulah ditemukan cokelat padat. Orang Eropa menyingkirkan hampir semua rempah-rempah pada cokelat yang ditambahkan oleh orang Mesoamerika.

Melansir jurnal e-journal.uajy.ac.id, cokelat merupakan tanaman perkebunan berupa pohon yang dikenal di Indonesia sejak 1560, tetapi pemerintah Indonesia baru menjadikan cokelat sebagai komoditi sejak 1951. Awalnya, masyarakat Indonesia mulai mengolah tanaman cokelat menjadi bubuk cokelat. Bubuk cokelat ini biasanya diseduh dan diminum sebagai minuman penambah stamina.

Masuk dari Minahasa

Cokelat pertama kali masuk ke Indonesia melalui Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Bibitnya dari Filipina, diperkenalkan oleh orang-orang Spanyol. Belanda tertarik menyebarkan dan memperkenalkan budidaya tanaman kakao ke daerah Sumatera dan Batavia. Pada 1806, tanaman kakao mulai diperkenalkan di Pulau Jawa dengan cara ditanam di sela-sela pohon kopi. Percobaan menanam kakao di sela-sela pohon kopi ini dilakukan karena kopi Arabika rusak akibat penyakit karat daun.

Menurut sejarawan makanan, Fadly Rahman, seorang pengusaha dari Belanda menyadari bahwa peminat bubuk cokelat di Hindia Belanda semakin meningkat, dan mendirikan perusahaan yang bernama ‘Tjoklat’ pada 1924. Dari meningkatnya kebutuhan akan cokelat, pada 1938 terdapat sekitar 29 perkebunan besar di Hindia Belanda yang menjadikan kakao sebagai komoditi utamanya. Pada tahun ini, cokelat mengalami masa keemasannya. Sebanyak 13 kebun baru dibuka di Jawa Barat, 7 di Jawa Tengah, dan 9 di Jawa Timur. Setelah Indonesia merdeka, perkebunan-perkebunan itu dinasionalisasi pascaproklamasi.

Kampung Kaleng – www.kampungkaleng.com

Kampung Kaleng adalah sentra perajin logam yang berada di Bogor. Banyaknya warga yang berprofesi sebagai perajin logam, menjadikan daerah ini salah satu UMKM unggulan Kabupaten Bogor. Logam dalam bahasa citeureup, sering disebut dengan “kaleng”. Sehingga apapun jenis logam, alumunium, stainless, galvalum, disebut “kaleng”. Tak heran bila media yang meliput, kemudian menyebut daerah ini menjadi Kampung Kaleng.

kaleng kerupuk mini, kaleng kerupuk, kerupuk kaleng, kaleng kerupuk jadul, kaleng kerupuk besar, harga kaleng kerupuk, kaleng kerupuk sabar, tempat kerupuk kaleng, kaleng kerupuk kecil, kaleng kerupuk kosong, harga kaleng kerupuk besar, tempat jual kaleng kerupuk jadul, kaleng kerupuk stainless, wadah kerupuk jadul, harga 1 kaleng kerupuk

 

 

Bagikan

Perjalanan Coklat Sampai Ke Indonesia! | Kampung Kaleng

Komentar (0)

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Anda Mungkin Suka

Our Office:

Jl RE. Sulaeman. Kamurang RT 02/07 No. 5 Puspasari Citeureup Bogor 16810

Pelayanan Konsumen:

  • Senin – Jum’at
  • Pukul 08.00 – 16.00 WIB
  • Hari Sabtu
  • Pukul 08.00 – 12.00 WIB

Customer Service:

Telepon dan Whatsapp:

Telkom: 021-87945717

Telkomsel: 0813 – 9266 – 0009

Indosat: 0815 – 902 – 9109

XL Axiata: 0878 – 8488 – 8909

Website:

Website: www.kampungkaleng.com

Email: kamp.kaleng@gmail.com

Instagram: @kampungkaleng

Facebook: Kampung Kaleng

Chat via Whatsapp
Nila
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Nila
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja