Asal Usul Kenapa Namanya Kue Keranjang
Saat kue keranjang mulai menjamur dijajakan di pasaran atau pun pertokoan, saat itu lah menjadi pertanda bahwa imlek sebentar lagi tiba. Menyantap dan membagikan kue keranjang saat Imlek tiba sudah menjadi tradisi turun temurun yang diwariskan oleh leluhur orang-orang Tionghoa. Belum bisa dipastikan kapan tepatnya kue keranjang ini hadir di tengah-tengah dunia perkulineran Indonesia. Namun, yang pasti, kue cokelat manis ini dibawa oleh para orang-orang Tiongkok yang migrasi ke Indonesia sejak 1-6 SM.
Kue keranjang (ada yang menyebutnya kue bakul atau dodol Tionghoa atau dodol Cina) yang disebut juga sebagai nián gāo (年糕) dalam bahasa Mandarin atau tiⁿ-kóe (甜棵) dalam bahasa Hokkien, yang mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang, adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek, walaupun tidak di Beijing pada suatu saat. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek (廿四送尫 Ji Si Sang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah tahun baru Imlek).
Kue keranjang diperkirakan sudah ada lebih dari 2.000 tahun lalu atau sebelum penanggalan Tionghoa ditetapkan pada Dinasti Zhou di abad ke-11 sampai 256 sebelum masehi. Masyarakat Tionghoa mempersembahkan nian gao sebagai persembahan kepada dewa dan leluhur.

Kue Keranjang – Kampung Kaleng
Dalam buku berjudul ‘Tahun Baru Cina: Fakta dan Cerita Rakyat’ karya William C. Hu tertulis kue keranjang awalnya kue keranjang disantap pada hari kesembilan di bulan kesembilan, bukan saat tahun baru Cina atau Imlek. Pada Dinasti Tang di tahun 618 sampai 907 maseni, nian gao menjadi makanan tradisional masyarakat Tionghoa yang disantap saat Festival Musim Semi.
Kemudian di masa Dinasti Qing periode 1636 sampai 1912, nian gao berkembang menjadi camilan masyarakat yang dapat dimakan kapan saja. Meski begitu, kue beras ini tetap punya posisi penting di setiap festival. Di masa Dinasti Han pada 206 sebelum masehi sampai 220 masehi, kue keranjang memiliki makna ‘tinggi’, ‘peningkatan’, hingga menjadi simbol kesuksesan.
Dipercaya pada awalnya kue, ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku (竈君公 Cau Kun Kong) agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga (玉皇上帝 Giok Hong Siang Te). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.
Asal-usul nama Kue Keranjang
Kue Keranjang adalah kue tradisional yang sering dikaitkan dengan perayaan Imlek atau Tahun Baru Imlek di berbagai budaya Asia, terutama di Indonesia, Tiongkok, dan beberapa negara Asia Tenggara. Kue ini juga dikenal dengan nama lain, seperti “nian gao” dalam bahasa Tionghoa.
Kue Keranjang umumnya terbuat dari tepung ketan yang dikukus hingga menghasilkan tekstur yang kenyal. Biasanya, kue ini memiliki rasa manis dan disajikan dalam bentuk lingkaran atau persegi panjang. Kue ini memiliki makna simbolis yang dalam dalam budaya Tionghoa dan dianggap membawa keberuntungan dan harapan untuk tahun yang baru.
Kue Keranjang dalam budaya Tionghoa melambangkan kemajuan dan pertumbuhan, karena kata “nian gao” dalam bahasa Tionghoa memiliki bunyi yang mirip dengan kata yang berarti “meningkat” atau “tumbuh” dalam arti kata yang berkonotasi positif.
Selama perayaan Imlek, Kue Keranjang sering kali menjadi hidangan yang penting. Kue ini bisa disajikan dalam berbagai cara, baik dimakan langsung setelah dikukus atau diolah lebih lanjut seperti digoreng atau dipanggang dengan bahan tambahan lain.
Kue Keranjang dapat dibeli di toko-toko kue atau supermarket selama musim Imlek, dan mereka juga sering diberikan sebagai hadiah atau oleh-oleh antara keluarga dan teman-teman. Kue ini adalah contoh nyata bagaimana makanan dalam budaya dapat menjadi simbol makna yang mendalam dan penting dalam perayaan dan tradisi.

Kue Keranjang – Kampung Kaleng
Arti di balik kue keranjang
Di Cina terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun. Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue (糕) dan juga terdengar seperti kata tinggi (高), oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkuk berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkuk.
Resep membuat Kue Keranjang
Berikut adalah resep dasar untuk membuat kue keranjang. Ingatlah bahwa prosesnya mungkin memerlukan beberapa tahap dan waktu, karena kue ini dikukus untuk menghasilkan tekstur kenyal yang khas.
Bahan-bahan:
- 250 gram tepung ketan
- 150 ml air
- 200 gram gula pasir
- 1 sendok makan minyak sayur
- 1/2 sendok teh garam
- Daun pisang untuk membungkus (opsional)
Langkah-langkah:
- Persiapan Tepung Ketan:
- Rendam tepung ketan dalam air selama beberapa jam atau semalaman. Setelah direndam, tiriskan tepung ketan dari airnya.
- Pembuatan Adonan:
- Campur tepung ketan yang sudah direndam dengan gula pasir dan garam. Aduk hingga semua bahan tercampur rata.
- Tambahkan air sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga adonan menjadi kental dan tidak ada gumpalan tepung.
- Pengukusan:
- Jika Anda menggunakan daun pisang, siapkan potongan daun pisang yang cukup besar untuk membungkus adonan.
- Panaskan kukusan di atas api sedang.
- Letakkan adonan di atas daun pisang dan bentuk sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Lipat daun pisang untuk membungkus adonan secara rapi.
- Kukus adonan dalam daun pisang selama 1,5 – 2 jam atau hingga kue matang dan memiliki tekstur kenyal.
- Penghidangan:
- Setelah matang, keluarkan kue keranjang dari kukusan dan biarkan dingin sejenak.
- Kue keranjang dapat disajikan langsung setelah dingin atau Anda juga dapat memotongnya menjadi potongan-potongan sebelum penyajian.
Selain resep dasar di atas, ada banyak variasi kue keranjang yang dapat Anda coba. Beberapa variasi termasuk menambahkan bahan-bahan seperti kacang merah, kacang hijau, atau bahan tambahan lainnya untuk memberikan rasa dan tekstur yang berbeda. Pastikan untuk mengikuti instruksi dengan hati-hati dan eksperimen dengan bahan-bahan yang Anda sukai. Jangan lupa bahwa pembuatan kue keranjang membutuhkan ketelatenan dan waktu yang cukup, tetapi hasilnya akan memberikan pengalaman dan cita rasa yang autentik.
Cara Menyajikan
Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet. Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung, akan tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan sebagai bubur dengan cara dikukus (di-tjwee/di-cue 炊) kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan.

Cetakan Kue Keranjang – Kampung Kaleng

Cetakan Kue Keranjang – Kampung Kaleng
Di Cina, ada berbagai jenis kue keranjang. Ada yang rasanya manis, asin, bahkan pedas. Masyarakat Cina bagian utara umumnya membuat nian gao putih, sedangkan masyarakat Cina barat laut lebih familiar dengan nian gao kuning. Ada pula yang menambahkan warna nabati pada kue beras ini sehingga terlihat berwarna merah, hijau, atau.
Kue keranjang yang bercita rasa manis umumnya tersedia di wilayah Tiongkok utara dan diolah dengan cara dikukus atau digoreng. Nian gao ini biasanya disajikan sebagai makanan penutup. Sementara di Tiongkok selatan, cita rasa nian gao lebih bervariasi. Ada yang manis manis, asin, atau pedas. Cara memasaknya dengan dikukus, digoreng, ditumis, bahkan dimasukkan ke dalam sup.
Kampung Kaleng adalah sentra perajin logam yang berada di Bogor. Banyaknya warga yang berprofesi sebagai perajin logam, menjadikan daerah ini salah satu UMKM unggulan Kabupaten Bogor. Logam dalam bahasa citeureup, sering disebut dengan “kaleng”. Sehingga apapun jenis logam, alumunium, stainless, galvalum, disebut “kaleng”. Tak heran bila media yang meliput, kemudian menyebut daerah ini menjadi Kampung Kaleng.
#kuekeranjang #dodolcina #kampungkaleng #imlek #tahunbaruimlek #cetakandodol #cetakankuekeranjang #cetakankue
Tags: anekacetakankue, anekaloyang, jualcetakankue, kampungkaleng, kue, kuekeranjang, loyang, loyangkue, loyangroti, tokocetakankue
Asal Usul Kenapa Namanya Kue Keranjang
Dari Tradisional ke Tren Viral: Evolusi Bolu Ketan Hitam Akar Tradisi: Bolu dari Tepung Ketan Hitam Bolu ketan hitam sebenarnya... selengkapnya
Menabung adalah hal dasar dalam pengelolaan keuangan. Tujuan menabung, yaitu menyiapkan dana untuk masa depan. Sayangnya, masih saja ada... selengkapnya
Dalam kekayaan kuliner Indonesia, terdapat berbagai hidangan tradisional yang menggoda lidah dan memanjakan perut. Salah satunya adalah Roti Gembong, sebuah... selengkapnya
Ember stainless steel, atau yang sering disebut ember stainless, merupakan salah satu alat rumah tangga dan industri yang telah mendapatkan... selengkapnya
Kotak surat, sebuah benda sederhana yang sering kali diabaikan, memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perkembangan komunikasi. Meskipun teknologi... selengkapnya
Bagi masyarakat Yogya, sagon adalah salah satu kue untuk seserahan. Kue sagon saat ini semakin sulit ditemukan. Di samping tidak... selengkapnya
Baking Class: Mengasah Kreativitas dan Keahlian Membuat Kue Memasak dan membuat kue bukan hanya sekadar kebutuhan, melainkan juga menjadi kegiatan... selengkapnya
Brownies atau Bronis merupakan sebuah makanan yang dipanggang yang berbentuk persegi, datar atau bar dikembangkan di Amerika Serikat pada akhir... selengkapnya
Core Tray Non-Plastik: Solusi Tangguh dan Ramah Lingkungan untuk Industri Eksplorasi Temukan keunggulan core tray non-plastik sebagai solusi tahan lama... selengkapnya
Takoyaki, salah satu makanan ringan yang sangat populer di Jepang, memiliki rasa khas yang membuatnya digemari di berbagai negara, termasuk... selengkapnya
Kaleng Kerupuk Mini Merchandise untuk Corporate tema Kemerdekaan, ukuran 13 x 13 x 15 cm. Terbuat dari aluminium yang dicat… selengkapnya
Rp 59.000Celengan Kotak pintu kaca, terbuat dari alumunium yang dicat bagian luarnya, Ukuran 11 x 11 x 13 cm, terdapat pintu… selengkapnya
Rp 26.000Cetakan Lontong, Buras (sunda) / Arem-arem (jawa), bisa juga digunakan untuk membuat lopis ketan. Terbuat dari alumunium dengan tutup di… selengkapnya
Rp 6.900Kaleng Kerupuk Mini Ukuran 11 x 13 cm – Warna Gold dan Silver Produk terbuat dari alumunium (anti karat), yang… selengkapnya
Rp 37.500Loyang Press Chiffon Cake Ukuran 20 cm Loyang ini dibuat dengan menggunakan mesin, sehingga tidak memiliki sambungan. Ukuran diameter atas… selengkapnya
Rp 39.000Spuit Kue Set isi 30 pcs plus capit nastar – Terbuat dari stainless – isi 30 pcs dengan berbagai motif… selengkapnya
Rp 29.50022%
Kaleng Kerupuk Mini Set Edisi Lebaran, terdiri dari 4 pcs. Ukuran 6 x 8 cm, 7 x 10 cm, 9… selengkapnya
Rp 97.500 Rp 124.716Double Washcom Kaki 1 Stainless Steel Spesif ikasi Dimensi (PxLxT) : 90×80 cm Konstruksi/Material : Stainless Steel Pipe Ø 0,8… selengkapnya
*Harga Hubungi CSLonceng / Bel, terbuat dari kuningan dan gagangnya terbuat dari kayu. ukuran tinggi 15 cm, diameter lonceng 7 cm. biasa… selengkapnya
Rp 35.000Kotak Surat Persegi dilengkapi dengan pintu kaca. Produk ini terbuat dari plat kaleng, ukuran tinggi 43 cm, panjang 35 cm… selengkapnya
Rp 392.000
Saat ini belum tersedia komentar.