Harmoni di Kampung Kaleng
Memasuki Kampung Dukuh kita seperti memasuki dunia kaleng. Sejauh mata memandang, pelat-pelat kaleng, baik yang baru maupun bekas, terlihat menumpuk hingga ke gang-gang sempit, memantulkan bayangan pepohonan, rumah-rumah, kendaraan, dan warga yang berlalu lalang.
Di muka hampir semua rumah, ada saja sekelompok orang yang sedang bekerja membuat aneka produk berbahan kaleng, mulai panci, kompor, kaleng kerupuk, oven, penggorengan, cetakan kue, bak sampah, hingga aksesori mobil dan knalpot sepeda motor. Suara tak tek tok yang keluar dari benturan palu dengan kaleng terdengar di mana-mana dan akan reda saat azan berkumandang atau waktu istirahat tiba. Karena itulah, kampung itu dijuluki ”Kampung Kaleng”.
Sekitar lima tahun yang lalu, suara tak tek tok kerap diselingi suara warga yang bertengkar berebut pembeli. Saat itu, persaingan di antara perajin begitu hebatnya. Mereka bisa saling menjatuhkan dan banting harga. Jika si A menjajakan produknya seharga Rp 500.000, si B akan mematok harga lebih murah agar pelanggan berpaling padanya.
”Situasi kampung jadi tegang. Rebutan pembeli memicu pertengkaran bahkan perkelahian,” kenang Dedi Ahmadi, pemuda berusia 38 tahun yang juga perajin kaleng, pertengahan April lalu, di Kampung Dukuh. Ia mengaku pernah terlibat pertengkaran seperti itu. ”Lima tahun yang lalu saya bekerja di tempat kakak saya sebagai pembuat cetakan kue. Suatu ketika tetangga sebelah menuduh kakak saya merebut pelanggannya, lalu mereka jotos-jotosan. Ya, saya membela kakak dan ikutan gelut,” tuturnya.
Setelah gelut, Dedi sadar bahwa berebut pelanggan hanya menguntungkan pengepul yang datang ke Kampung Kaleng. ”Mereka bisa menekan harga produk serendah-rendahnya kepada perajin. Kami yang cakar-cakaran.”

Aktifitas Perajin di Kampung Kaleng
Gerakan koperasi
Dedi bertekad mengakhiri praktik rebutan pelanggan yang memicu ketegangan. Dia pun menghubungi dua teman sekaligus kerabat dekatnya, Nurwan dan Anwarudin. Mereka mendiskusikan persoalan itu untuk mencari solusi. Dari diskusi tersebut tercetus ide membuat kelompok usaha bersama.
Ide itu segera dieksekusi dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Rancage. Rancage diambil dari bahasa Sunda yang berarti cakap atau mahir melakukan sesuatu. Mereka selanjutnya berusaha merangkul para tetangga untuk bergabung dengan Rancage. ”Kami ketuk pintu rumah tetangga satu per satu dan mengajak mereka untuk bergabung. Ternyata susah sekali, tidak semua warga mau menerima ide itu,” ujar Dedi.
Dari hasil keliling ke rumah-rumah, Dedi dan kawan-kawan hanya mampu merekrut 15 orang dari sekitar 135 perajin di Kampung Kaleng. Namun, mereka tidak mundur. ”Kami teruskan rencana kami. Awalnya memang tidak mulus karena kami tidak punya modal,” katanya.
Suatu ketika sekitar empat tahun yang lalu, para anggota Rancage mendapat bantuan dana bergulir dari CSR PT Indocement masing-masing Rp 20 juta. Mereka juga mendapat berbagai pelatihan dan akses untuk mengikuti pameran di Jakarta.
Dari situ, roda usaha anggota Rancage bergerak lebih cepat. Suara tak tek tok semakin sering terdengar dari bengkel para perajin, pertanda pesanan kerajinan aneka produk kaleng berdatangan. ”Semula pasar kami hanya seputar Citeureup, paling jauh daerah Jakarta seperti Cawang, Pasar Senen, dan Tanah Abang. Sekarang permintaan datang dari Batam, Kalimantan, hingga Malaysia.”
Omzet perajin berlipat ganda dari sebelumnya Rp 200.000-Rp 500.000 per hari menjadi lebih dari Rp 1 juta. ”Para perajin bisa hidup. Mereka juga tidak perlu berkelahi untuk mendapatkan pelanggan yang kini berlimpah. Dulu mereka tidak punya rumah, sekarang sudah punya. Dulu belum punya sepeda motor, sekarang sudah bisa.”
Melihat kemajuan tersebut, perajin lain akhirnya mau bergabung dengan Rancage. Agar usaha kian berkembang, Dedi dan kawan-kawan mengubah kelompok usaha bersama menjadi Koperasi Usaha Bersama (KUB) Rancage pada 2015. Anggota koperasi itu kini berjumlah 72 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Desa Pasirmukti, tetapi juga dari 12 desa lainnya, antara lain Tari Kolot, Gunung Sari, dan Lulut.
Mereka terbagi dalam beberapa kluster usaha, yakni kluster usaha berbasis kaleng, makanan dan minuman, boneka, garmen, alat kebersihan, dan alat kesehatan. ”Kami berusaha mengintegrasikan semuanya. Kalau dulu kami hanya jualan stoples, misalnya, sekarang jualan stoples beserta isinya, yakni keripik buatan ibu-ibu,” lanjut Dedi.
Ke depan, Dedi dan kawan-kawan berencana mendorong sentra kerajinan kaleng di Citeureup menjadi daerah wisata Kampung Kaleng. ”Saya mengincar ibu-ibu. Mereka bisa datang ke sini melihat Kampung Kaleng dan pulangnya beli panci, stoples, atau penggorengan.”

Aktifitas Perajin di Kampung Kaleng
Pertaruhan
Dedi lahir di Kampung Dukuh, Desa Pasirmukti yang sejak dulu menjadi sentra kerajinan kaleng terbesar di wilayah Kabupaten Bogor. ”Saya tidak tahu pasti kapan orang-orang di kampung ini memulai usaha berbasis kaleng. Yang jelas ini usaha turun-menurun.”
Anak-anak muda di Kampung Kaleng, lanjut Dedi, rata-rata hanya sekolah hingga SD. Ketika memasuki usia 17 tahun, mereka biasanya sudah menikah. Untuk menghidupi keluarga, mereka terjun sebagai perajin kaleng. ”Menjadi perajin itu sudah seperti nasib. Kakeknya bikin kompor, bapaknya bikin kompor, cucunya juga bikin kompor. Enggak ada pilihan, kecuali buat yang punya ijazah SMA. Mereka bisa kerja di pabrik.”
Kini, lanjut Dedi, anak muda terjun ke bisnis kerajinan kaleng bukan karena ”suratan takdir”, melainkan karena bisnis ini menjanjikan kesejahteraan. Anak-anak muda yang memiliki ijazah SMA pun tidak terlalu bernafsu lagi bertarung habis-habisan dengan pendatang sekadar untuk bekerja sebagai buruh pabrik yang banyak bertebaran di Citeureup, Cibinong, dan sekitarnya.
Suatu siang, pertengahan April lalu, beberapa anak muda Kampung Kaleng yang rata-rata berkulit putih-bersih dengan tekun mengecat pot-pot hias mini cantik di sebuah bengkel. Ada pula yang memotong lembaran pelat logam dan menempanya menjadi stoples mini.
Suara tak tek tok bersahutan dari masing-masing bengkel dengan riuhnya. Mereka tahu selama suara tak tek tok terdengar dari rumah-rumah berarti duit terus mengalir ke Kampung Kaleng.
Kampung Kaleng adalah sentra perajin logam yang berada di Bogor. Banyaknya warga yang berprofesi sebagai perajin logam, menjadikan daerah ini salah satu UMKM unggulan Kabupaten Bogor. Logam dalam bahasa citeureup, sering disebut dengan “kaleng”. Sehingga apapun jenis logam, alumunium, stainless, galvalum, disebut “kaleng”. Tak heran bila media yang meliput, kemudian menyebut daerah ini menjadi Kampung Kaleng.
kaleng kerupuk mini, kaleng kerupuk, kerupuk kaleng, kaleng kerupuk jadul, kaleng kerupuk besar, harga kaleng kerupuk, kaleng kerupuk sabar, tempat kerupuk kaleng, kaleng kerupuk kecil, kaleng kerupuk kosong, harga kaleng kerupuk besar, tempat jual kaleng kerupuk jadul, kaleng kerupuk stainless, wadah kerupuk jadul, harga 1 kaleng kerupuk
Tags: harga 1 kaleng kerupuk, harga kaleng kerupuk, harga kaleng kerupuk besar, harga kerupuk 1 kaleng, harga kerupuk kaleng, harga kerupuk putih 1 kaleng, harga kerupuk putih kaleng, kaleng kerupuk, kaleng kerupuk besar, kaleng kerupuk jadul, kaleng kerupuk kecil, kaleng kerupuk kosong, kaleng kerupuk mini, kaleng kerupuk sabar, kaleng kerupuk stainless, kampungkaleng, kerupuk kaleng, kerupuk kaleng putih, kerupuk putih kaleng, tempat jual kaleng kerupuk jadul, tempat kerupuk kaleng, wadah kerupuk jadul
Harmoni di Kampung Kaleng
Kerupuk, sudah tidak asing lagi di telinga sebagian besar penduduk Indonesia. Hampir setiap kuliner nusantara, menjadikan kerupuk sebagai pendamping, bahkan... selengkapnya
Mie ayam atau bakmi ayam adalah hidangan Indonesia yang terbuat dari mie gandum kuning yang dibumbui dengan daging ayam yang... selengkapnya
Jasa Pembuatan Tray Trolley Stainless Custom untuk Bakery, Hotel, Restoran & Dapur Komersial Dalam industri makanan dan minuman, efisiensi operasional... selengkapnya
Bagi ibu-ibu yang hobi masak kue, tidak bisa meninggalkan loyang. Berbagai jenis dan bentuk loyang tersedia di pasaran. Untuk membuat... selengkapnya
KONTAN.CO.ID – Tek…tok…tek…tok…irama besi tempa ini yang menyapa KONTAN saat bertandang ke Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor,... selengkapnya
Cokelat atau Coklat (bahasa Inggris: Chocolate) adalah sebutan untuk hasil olahan makanan atau minuman dari biji kakao (Theobroma cacao). Cokelat... selengkapnya
Kue lapis legit merupakan salah satu kue tradisional Indonesia yang terkenal dengan teksturnya yang lembut dan cita rasa yang kaya.... selengkapnya
Kenalan Dulu Yuk sama Kue Viral yang “Hangus & Lumer” Burnt Chocolate Lumer adalah varian lava cake dengan kerak luar... selengkapnya
Kita semua pasti tau dong, sama es cendol atau es dawet. Apalagi kalo minumnya pas siang panas kayak gini, seger... selengkapnya
Ide Pernikahan Gen Z Unik: Bukan Cuma Tren KUA, Tapi DIY Souvenir Kaleng & Toples Custom! Hai, future bride and... selengkapnya
Loyang bolu tulban chiffon mini ukuran 10 cm, tinggi 4 cm. Terbuat dari alumunium, bisa bongkar pasang loyang chiffon… selengkapnya
Rp 16.000Loyang Bulat Press adalah produk yang dijual dengan ukuran tinggi 4 cm dan diameter 12 cm. Produk ini terbuat dari… selengkapnya
Rp 13.500Cetakan Banana Cake Ukuran 9 cm Produk ini terbuat dari alumunium (anti karat) ketebalan 0,8 cm. (paling tebal jika dibandingkan… selengkapnya
Rp 5.500Kaleng Kerupuk Mini Ukuran 8 x 8 x 10 cm Produk terbuat dari alumunium (anti karat), yang dibuat secara handmade,… selengkapnya
Rp 16.000Kotak Donasi – Amal, terbuat dari plat, biasa digunakan untuk menampung donasi, di suatu acara, di minimarket maupun di tempat… selengkapnya
Rp 75.00022%
Kaleng Kerupuk Mini Set Edisi Idul Fitri, terdiri dari 4 pcs. Ukuran 6 x 8 cm, 7 x 10 cm,… selengkapnya
Rp 97.500 Rp 124.716Cetakan Kue Kastengel – Stainless 0,6 mm Anti Karat, Asli Perajin Kampung Kaleng Citeureup Bogor Ingin membuat kue kastengel yang… selengkapnya
Rp 47.200Rolling Pin Stainless, ukuran panjang roll 20 cm, panjang keseluruhan 39 cm, diameter roll 5 cm Produk ini bisa… selengkapnya
Rp 80.000Loyang Brownies Mini. Ukuran 15 x 10 x 4 cm Terbuat dari alumunium 0,4 mm. Bahan tebal, kokoh dan awet… selengkapnya
Rp 9.500Kaleng Kerupuk Mini, ukuran 11 x 11 x 13 cm. Produk terbuat dari alumunium (anti karat), yang dibuat secara handmade…. selengkapnya
Rp 24.000
Saat ini belum tersedia komentar.