Ternyata Ini Asal Mula Dimsum!
Kata “dimsum” berasal dari bahasa Kanton, yang secara harfiah berarti “menyentuh hati” atau “sesuatu yang menyentuh hati.” Makna ini menggambarkan sifat dari hidangan dimsum, yang berupa makanan kecil atau ringan yang disajikan dalam porsi kecil, dan dirancang untuk memberikan kepuasan yang sederhana tetapi menyenangkan, seperti sentuhan kecil yang menyentuh hati.
Dimsum bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari tradisi “yum cha,” yang berarti “minum teh” dalam bahasa Kanton. Dalam tradisi ini, dimsum disajikan sebagai teman minum teh, biasanya di pagi atau siang hari. Karena porsi kecilnya, dimsum memungkinkan seseorang untuk menikmati berbagai jenis makanan dalam satu waktu, yang juga mencerminkan sifat dari kata “dimsum” sebagai sesuatu yang dapat memberikan kebahagiaan dan kepuasan secara bertahap.
Secara keseluruhan, dimsum adalah lebih dari sekadar makanan; ini adalah pengalaman sosial dan budaya yang melibatkan berbagi, kebersamaan, dan keanekaragaman rasa.
Dimsum adalah istilah dalam bahasa Kanton yang merujuk pada beragam jenis makanan kecil yang biasanya disajikan bersama teh. Asal mula dimsum terkait erat dengan tradisi kuno Tiongkok, khususnya di wilayah selatan Tiongkok, terutama di Kanton (sekarang dikenal sebagai Guangzhou).
Asal Mula dan Sejarah Dimsum
- Teahouses (Rumah Teh) di Jalur Sutra: Tradisi dimsum dimulai lebih dari 2.000 tahun lalu, ketika para pedagang dan pelancong yang melakukan perjalanan di sepanjang Jalur Sutra (Silk Road) akan berhenti di rumah-rumah teh untuk beristirahat. Untuk menemani minum teh, berbagai makanan kecil disajikan, dan dari sinilah konsep dimsum mulai terbentuk. Awalnya, makan bersama teh dianggap tidak pantas karena makan dianggap dapat menyebabkan penambahan berat badan. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai menikmati kombinasi teh dan makanan ringan.
- Perkembangan di Kanton: Pada masa Dinasti Song (960–1279 M), dimsum menjadi populer di wilayah selatan Tiongkok. Orang-orang mulai mengunjungi rumah-rumah teh yang menyajikan beragam hidangan kecil ini sebagai bagian dari tradisi “yum cha” (minum teh). Pada abad ke-10, dimsum telah menjadi bagian integral dari budaya kuliner di Kanton, dan variasi hidangannya terus berkembang.
- Pengaruh Budaya Kanton: Di wilayah Kanton, orang-orang mengembangkan berbagai jenis dimsum dengan teknik yang berbeda seperti dikukus, digoreng, atau dipanggang. Hidangan ini mencakup segala sesuatu dari pangsit (dumpling) yang diisi dengan daging atau sayuran, hingga berbagai jenis kue dan roti. Dimsum juga sering kali dihidangkan dalam porsi kecil dalam wadah bambu, yang masih menjadi ciri khasnya hingga saat ini.
Evolusi Dimsum di Luar Tiongkok
Selama abad ke-19, ketika banyak orang Kanton bermigrasi ke negara-negara lain, terutama ke Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Asia Tenggara, mereka membawa tradisi dimsum bersama mereka. Di restoran-restoran Tiongkok di luar negeri, dimsum menjadi hidangan yang sangat populer, terutama pada pagi hingga siang hari sebagai bagian dari brunch.
Dimsum kini telah menjadi bagian penting dari budaya kuliner global, dan meskipun berasal dari Kanton, variasi dimsum terus berkembang di berbagai negara, mencerminkan adaptasi lokal dan kreativitas kuliner.

Dimsum Ayam – Kampung Kaleng
Jenis-jenis Dimsum yang Populer
Beberapa jenis dimsum yang paling populer meliputi:
- Har Gow: Pangsit udang yang dibungkus dengan kulit tipis dari tepung tapioka.
- Siu Mai: Pangsit terbuka yang biasanya diisi dengan campuran daging babi dan udang.
- Char Siu Bao: Roti isi daging babi panggang.
- Cheung Fun: Gulungan tepung beras yang diisi dengan daging atau udang dan disajikan dengan saus kedelai.
- Egg Tart: Kue tart dengan isian custard telur yang manis.
Dimsum tidak hanya menjadi makanan, tetapi juga bagian dari pengalaman sosial di mana orang berkumpul, berbicara, dan menikmati makanan dalam suasana yang santai. Tradisi ini masih hidup hingga saat ini, baik di Tiongkok maupun di berbagai negara lainnya.
Masuknya dimsum ke Indonesia tidak lepas dari sejarah panjang migrasi dan pengaruh budaya Tionghoa di Nusantara. Dimsum mulai dikenal di Indonesia seiring dengan datangnya komunitas Tionghoa, khususnya dari wilayah selatan Tiongkok seperti Kanton (Guangdong) dan Fujian, yang bermigrasi ke berbagai wilayah di Indonesia sejak abad ke-15 hingga ke-19.
Awal Mula Masuknya Dimsum di Indonesia
- Migrasi dan Penyebaran Budaya Tionghoa: Komunitas Tionghoa pertama kali tiba di Indonesia sebagai pedagang dan imigran pada masa Kerajaan Majapahit dan kemudian pada masa penjajahan Belanda. Mereka menetap di berbagai wilayah, seperti Batavia (sekarang Jakarta), Surabaya, Medan, Semarang, dan Palembang. Selain membawa budaya dan tradisi mereka, mereka juga memperkenalkan berbagai makanan, termasuk dimsum.
- Pengaruh di Pecinan: Di kota-kota besar di Indonesia, komunitas Tionghoa biasanya berkumpul di daerah yang dikenal sebagai “Pecinan” (Chinatown). Di sinilah makanan-makanan khas Tiongkok, termasuk dimsum, mulai dikenal oleh masyarakat lokal. Dimsum pada awalnya mungkin hanya dikonsumsi oleh komunitas Tionghoa sendiri, tetapi seiring waktu, popularitasnya meluas ke masyarakat non-Tionghoa.
- Restoran dan Kedai Teh Tionghoa: Pada awal abad ke-20, banyak restoran dan kedai teh Tionghoa di Indonesia yang mulai menawarkan dimsum sebagai bagian dari menu mereka, terutama pada pagi hingga siang hari, mengikuti tradisi “yum cha” atau minum teh. Hidangan ini menarik perhatian masyarakat luas karena keanekaragamannya, ukuran porsinya yang kecil, dan rasanya yang lezat.
- Pengaruh Kulinari Modern: Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, dengan meningkatnya popularitas masakan internasional dan gaya hidup yang lebih kosmopolitan di Indonesia, dimsum semakin dikenal dan dicari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Beberapa restoran dan hotel mulai menawarkan hidangan dimsum sebagai bagian dari brunch atau menu spesial, memperkenalkan hidangan ini kepada lebih banyak orang.
- Populer di Kalangan Pecinta Kuliner: Pada awal abad ke-21, dimsum telah menjadi salah satu hidangan favorit di Indonesia, baik di restoran-restoran khusus dimsum maupun sebagai bagian dari menu di berbagai restoran Tionghoa. Beberapa variasi lokal dimsum juga muncul, menyesuaikan dengan selera dan bahan baku yang ada di Indonesia.
Dimsum di Indonesia
Meski tetap mempertahankan keaslian dari Tiongkok, dimsum di Indonesia juga mengalami adaptasi. Beberapa restoran menawarkan dimsum dengan bahan-bahan yang halal, menyesuaikan dengan mayoritas populasi Muslim di Indonesia. Misalnya, daging babi pada beberapa jenis dimsum digantikan dengan ayam atau udang.
Saat ini, dimsum dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia, dari restoran mewah hingga kedai-kedai kecil. Popularitasnya tidak hanya sebagai bagian dari tradisi Tionghoa, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia yang beragam.

Kukusan Dimsum – Kampung Kaleng
Resep Membuat Dimsum
Berikut adalah resep dasar untuk membuat dimsum jenis siu mai (shumai), yang merupakan salah satu dimsum paling populer. Resep ini mencakup bahan-bahan dan langkah-langkah untuk membuat siu mai dengan isian daging ayam dan udang.
Bahan-Bahan
- Kulit dimsum (wonton wrapper): 30 lembar
- Daging ayam cincang: 250 gram
- Udang kupas, cincang kasar: 100 gram
- Jamur shiitake, rendam hingga lembut dan cincang halus: 2 buah
- Bawang putih, cincang halus: 2 siung
- Daun bawang, iris halus: 2 batang
- Wortel, parut halus: 1 buah (untuk isian dan hiasan)
- Minyak wijen: 1 sendok makan
- Kecap asin: 1 sendok makan
- Saus tiram: 1 sendok makan
- Tepung maizena: 1 sendok makan
- Garam: 1/2 sendok teh
- Gula pasir: 1/2 sendok teh
- Merica bubuk: 1/2 sendok teh
Langkah-Langkah Membuat
- Membuat Isian Dimsum:
- Dalam sebuah mangkuk besar, campurkan daging ayam cincang, udang cincang, jamur shiitake, bawang putih cincang, dan daun bawang iris.
- Tambahkan minyak wijen, kecap asin, saus tiram, tepung maizena, garam, gula pasir, dan merica bubuk. Aduk hingga semua bahan tercampur merata.
- Masukkan sebagian wortel parut ke dalam campuran isian dan aduk rata. Sisakan sedikit wortel parut untuk hiasan.
- Membentuk Siu Mai:
- Ambil satu lembar kulit dimsum dan letakkan di telapak tangan Anda.
- Ambil sekitar 1 sendok makan adonan isian dan letakkan di tengah-tengah kulit dimsum.
- Bentuk kulit dimsum dengan merapatkan bagian tepinya ke arah isian, sehingga membentuk kantong terbuka di atas. Tekan sedikit bagian atas isian agar rata dengan tepi kulit.
- Hias bagian atas isian dengan sedikit wortel parut.
- Mengukus Siu Mai:
- Siapkan kukusan atau klakat stainless dari Kampung Kaleng dan panaskan air hingga mendidih.
- Olesi dasar kukusan dengan sedikit minyak atau letakkan daun pisang/parchment paper agar dimsum tidak lengket.
- Susun siu mai di dalam kukusan, beri jarak antara satu dengan yang lain.
- Kukus siu mai selama 15-20 menit atau hingga matang dan isian berubah warna menjadi putih kekuningan.
- Penyajian:
- Angkat siu mai dari kukusan dan letakkan di atas piring saji.
- Sajikan siu mai dengan saus cabai atau saus sambal sebagai pelengkap.
Tips
- Anda bisa mengganti daging ayam dengan daging babi atau daging sapi cincang sesuai selera.
- Jika tidak memiliki kulit dimsum, Anda bisa membuatnya sendiri dari adonan tepung terigu dan air, atau menggunakan kulit pangsit yang sudah tersedia di pasar.
- Jika tidak segera dikonsumsi, siu mai bisa disimpan di dalam freezer dan dikukus ulang saat akan disajikan.
Dengan resep ini, Anda bisa menikmati dimsum siu mai yang lezat dan segar langsung dari dapur Anda!
Tags: asal mula dimsum, kampungkaleng
Ternyata Ini Asal Mula Dimsum!
Kue Balok adalah salah satu kue tradisional Indonesia yang memiliki sejarah yang panjang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan... selengkapnya
Kota Jakarta sebagai pusat bisnis dan ekonomi Indonesia, menawarkan banyak peluang bagi para penggiat kuliner, terutama dalam industri baking. Salah... selengkapnya
Siapa nih yang suka jalan – jalan ke Bogor, pastinya tau dong oleh-oleh yang paling di cari di bogor? Ya... selengkapnya
Kue Kering Lebaran 2026: Panduan Resep, Tren Packaging, dan Peluang Bisnis Rumahan Menjelang Lebaran 2026, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap tradisi... selengkapnya
Perbedaan Cetakan Bolu Kukus dan Cetakan Cupcake — Jangan Salah Pilih! Pendahuluan Kalau kamu suka bikin kue atau baru mau... selengkapnya
Roti Maryam, juga dikenal sebagai Roti Canai atau Roti Prata di beberapa tempat, adalah jenis roti yang populer di berbagai... selengkapnya
Siap Kembali ke Sekolah: Tips Persiapan Setelah Libur Lebaran Libur panjang Hari Raya Idul Fitri telah usai, dan saatnya bagi... selengkapnya
Putu mayang merupakan kue tradisional khas Indonesia. Putu mayang dibuat dengan tiga bahan yakni tepung beras atau tepung kanji, santan,... selengkapnya
Tahun Baru Imlek identik dengan adanya lampion. Kita dapat menemukan banyak lampion, baik di kelenteng, jalan, maupun rumah-rumah warga Tionghoa... selengkapnya
Makna Isra Miraj: Perjalanan Agung yang Menjadi Momentum Umat Muslim Isra Miraj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam.... selengkapnya
Loyang Sponge Cake, terbuat dari alumunium 0.4 mm, ukuran diameter 26 cm, tinggi kaki 4 cm, tinggi loyang 10 cm,… selengkapnya
Rp 45.000Spatula Stainless, digunakan biasa pada saat mengaduk adonan maupun memotong. Ukuran : – Spatula Besar panjang 17 cm, tinggi 9,5… selengkapnya
*Harga MulaiRp 13.000
Loyang Roti Tawar Bandung Ukuran 20 x 8 x 8 cm Terbuat dari alumunium, 0,4 mm Tutupnya buka tutup dari… selengkapnya
Rp 35.000Cetakan Tumpeng Tangga Press Satu Set, terdiri dari 3 pcs dengan ukuran sebagai berikut: Ukuran 1 = Diamater 25 cm… selengkapnya
Rp 93.000Pencair Coklat, terbuat dari stainless steel. ukuran 28 x 15 x 8 cm, ukuran diameter mangkuk 12,5 cm. Tersedia untuk… selengkapnya
Rp 85.000Talenan Clava Putih Seri 2510 Ukuran 240 x 140 x 7 mm Baca Juga: Roti Gembong: Memahami Lezatnya Tradisi Kuliner… selengkapnya
Rp 28.000Mug Stainless Ukuran 10 cm Mug / Gelas Stainless 10 cm ini hadir dengan desain sederhana namun elegan, cocok untuk… selengkapnya
Rp 37.500Kocokan Jamu Stainless 19 cm = Kocokan Jamu Stainless adalah alat sederhana namun penting untuk Anda yang sering menikmati atau… selengkapnya
Rp 5.500Kerokan Kelapa Muda, gagangnya terbuat dari plastik / kayu, pengeroknya terbuat dari stainless pengerok kelapa, kerokan kelapa, Baca Juga: Roti… selengkapnya
Rp 3.500Wajan Mini – Terbuat dari bahan alumunium – Ukuran diamater 20 cm, kedalaman 5 cm – Bisa digunakan untuk… selengkapnya
Rp 18.000
Saat ini belum tersedia komentar.