google-site-verification=vPNmk_gAkH4QjBYcT5qlXQQihAeYK0QhhybUOmS39S0
Kaleng Kerupuk Mini - Cetakan Kue - Aneka Loyang - Klakat / Kukusan - Kotak Surat - Standing Ashtray - Ember Mini - Peralatan Dapur - Perlengkapan Kantor - Perlengkapan Rumah
Beranda » Artikel » Kue Cincin; Lambang Keabadian

Kue Cincin; Lambang Keabadian

Diposting pada 29 Februari 2020 oleh admin | Dilihat: 86 kali

Masyarakat Betawi memiliki banyak kuliner tradisional. Kalau kamu pencinta kuliner tradisional, belum lengkap kalau tak mencoba makanan-minuman khas suku yang ada di Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya ini. Salah satu kue tradisional khas Betawi yang cukup terkenal yaitu kue cincin. Kue ini juga ditemukan sebagai makanan oleh-oleh, selain ditemukan di acara adat pernikahan atau pada hari-hari raya.

Sebenarnya kue cincin ditemukan dalam khasanan kuliner Sunda. Maka kue ini juga ditemukan di Jawa Barat dan Banten. Di Jawa Barat, kue ini dinamakan sebagai ali agrem, sedangkan di daerah Banten disebut kolong-kolong. Ali dalam bahasa Sunda yaitu cincin, sedangkan kolong berarti bolong atau ruang.

Kue Cincin

Kue cincin disebut-sebut sebagai donat asli Indonesia. Tapi, meskipun memiliki karakteristik bentuk yang sama dengan donut, namun kue cincin ini memiliki ukuran lebih kecil dan hanya tersedia dalam warna coklat saja. Warna tersebut merupakan efek dari penggunaan gula merah yang memang menjadi bahan utama kue basah yang satu ini. Selain itu, bahan dasar lainnya yang terdapat pada kue cincin ini adalah tepung beras dan juga tepung ketan.

Kue cincin dibuat dari baha-bahan sederhana. Berbahan utama tepung beras dan tepung ketan, kemudian dicampur kelapa parut, gula merah, dan gula putih. Adonan campran bahan-bahan ini dibentuk bulat dengan bagian tengah bolong, persis seperti donat namun dengan ukuran kecil.

Pengolahan terakhir kue cincin yaitu memasaknya dengan digoreng. Penggorengan kue cincin menggunakan minyak yang banyak. Adonan dicelupkan langsung ke dalam minyak yang dijaga tidak terlalu panas, dan uniknya dibolak-balik menggunakan lidi yang dicolok di bagian tengahnya yang bolong.

Pada salah satu study yang meneliti komposisi dari camilan asal Jawa Barat ini, ditemukan bahwa Kue Ali Agrem mengandung energi sebesar 440 kilokalori, protein 3,8 gram, karbohidrat 64,5 gram, lemak 18,5 gram, kalsium 27 miligram, fosfor 47 miligram, dan zat besi 2,5 miligram. Selain itu di dalam Kue Ali Agrem juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,13 miligram dan vitamin C 0 miligram.

Bagi masyarakat Betawi, kue cincin bukan sekadar penganan. Kue ini merupakan kuliner wajib dalam acara-acara ada pernikahan. Kue cincin melambangkan ikatan atau keabadian sebagai harapan terhadap kehidupan masa depan pengantin.

Sementara itu, di tempat asalnya kue cincin ini umumnya disajikan pada sebuah pesta pernikahan. Hal ini dikarenakan bentuknya yang bulat dan memiliki lubang di tengahnya digambarkan sebagai lambang keabadian.

 

Bagikan informasi tentang Kue Cincin; Lambang Keabadian kepada teman atau kerabat Anda.

Kue Cincin; Lambang Keabadian | Kampung Kaleng

Belum ada komentar untuk Kue Cincin; Lambang Keabadian

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
Limited Edition
QUICK ORDER
Loyang Brownies Sekat Ukuran 20 cm

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 45.000
Ready Stock
QUICK ORDER
Pisau Kue Tart

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 1.000
Ready Stock / PD07
Rp 1.000
Ready Stock / PD07
Best Seller
QUICK ORDER
Kukusan – Klakat Bulat Ukuran 35 cm

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 265.000
Ready Stock
SIDEBAR